Kisah Inspiratif Mahasiswi Teknik Elektro UNPAM Sebagai Dropshipper Dimsum

SiberKota.com, Tangerang Selatan – Berangkat dari kisah inspiratif, dari seorang mahasiswi Program Studi Teknik Elektro Universitas Pamulang (UNPAM), Azizah Kusuma Dewi sebagai Dropshipper Dimsum yang membuatnya menjadi sosok perempuan yang mandiri dan tangguh.

Azizah, usia 20 tahun, mahasiswi reguler A semester 6 dari Program Studi Teknik Elektro di Universitas Pamulang, Dia berasal dari keluarga sederhana, memiliki impian untuk meraih kesuksesan.

Meskipun terbatasnya sumber daya, kini ia telah menjadi sorotan sebagai contoh sosok inspiratif muda bagi banyak orang, khususnya bagi teman-teman mahasiswa dan sesamanya.

Dia berhasil menjalani tiga aktivitas sekaligus, yakni kuliah, bekerja ( Dropshipper Dimsum) dan aktif berorganisasi di kampus.

Cerita Azizah Membagi Waktu dengan Baik Menjalankan Semua Tugasnya.

Sebagai sosok perempuan yang mandiri dan tangguh, ternyata Azizah adalah seorang Ketua Umum dari Himpunan Mahasiswa Teknik Elektro Universitas Pamulang Periode 2024 – 2025.

Di tengah kesibukannya sebagai Mahasiswa, Azizah seorang perempuan muda dari Serpong, Tanggerang Selatan, Jawa Barat, menunjukkan semangatnya untuk menjadi perempuan mandiri, tangguh dan pantang menyerah.

Azizah tidak hanya fokus pada studinya, tetapi juga aktif membangun usahanya sendiri sebagai Dropshipper.

Sebagai Seorang mahasiswa, dia memiliki jadwal kuliah yang padat, namun dia juga tidak ingin melewatkan kesempatan untuk bekerja sebagai Dropshiper dan berkontribusi dalam kegiatan organisasi.

Dalam mengatur waktunya, Azizah telah mengatur waktunya dengan jelas dan terperinci.

”keseharian saya sama seperti mahasiswa lain, hanya saja yang membedakannya itu ada beberapa tambahan dalam kehidupan sehari-hari saya. Rutinitas selepas Subuh, saya sudah mulai menyiapkan dagangan Dimsum, mulai dari mengukus, membuat bumbu sausnya itu dibantu ibu saya sendiri, dan terakhir packing dimsum ke dalam mika itu saya sendiri, yang nantinya dikirim ke reseller toko-toko yang saya titipkan dimsum tersebut,” urainya.

Ketika dagangan Dimsum tersebut sudah rapih, kemudian saya baru siap-siap untuk pergi ke kampus. Saya dari kelas Reguler A yang mana jadwal perkuliahan saya dari pagi sampai sore, selepas itu saya meluangkan waktu untuk pergi ke toko-toko reseller Dimsum saya dan para teman-teman mahasiswa yang kadang sewaktu-waktu order Dimsum,” tambahnya.

Tekad Azizah Ringankan Beban Orang Tua

Bisnisnya ini berawal dari tekadnya untuk meringankan beban orang tua dalam membiayai pendidikannya dan ia melihat peluang di sekitar kampusnya.

Banyak nya mahasiswa yang mencari makanan praktis dan lezat, mendorong Azizah untuk mencoba berjualan Dimsum.

Dimsum merupakan makanan yang banyak orang gemari, terutama kalangan muda. Sebab, rasanya yang enak dan harganya yang relatif terjangkau.

Sebelum menjadi Dropshipper, Azizah bekerja paruh waktu. Namun, kini ia memberanikan diri untuk mencoba bisnis dan menjadi seorang Dropshipper.

“Awalnya saya ragu, apakah bisa membagi waktu antara kuliah dan kerja. Khawatir terhadap bisnis yang nantinya akan saya jalani. Saya takut mengalami kerugian dan belum percaya sepenuhnya perihal bisnis ini,” ujarnya.

Namun, keraguan Azizah sirna setelah ia berhasil membuktikan mampu mengatur waktu dengan baik dan perlahan mengalami perkembangan yang signifikan.

“Kuncinya adalah disiplin dan manajemen waktu yang efektif,” tegasnya.

Jadi Dropshiper Tidak Butuh Modal Besar

Azizah memilih menjadi Dropshipper karena tidak membutuhkan modal besar untuk memulai usaha.

Ia tidak perlu repot untuk memproduksi sendiri, karena ia bermitra dengan Supplier yang terpercaya dan hanya perlu fokus pada pemasaran dan penjualannya.

Menjadi Dropshiper, tidak mengharuskan Azizah untuk memiliki modal besar.

Ia hanya perlu menjalin kerjasama dengan Supplier dan memasarkan produk melalui media sosial dan platform online.

Strategi pemasaran yang efektif yang Azizah lakukan saat ini, mengambil kesempatan dari sebuah media sosialnya.

Seperti halnya melalui media WhatsApp dan Instagram untuk memasarkan produknya. Adapun akun Instagramnya bernama ”@Djavamahasiswa”.

”Saya memanfaatkan media sosial seperti Instagram dan WhatsApp untuk mempromosikan. Saya juga menawarkan layanan pre-order agar pelanggan dapat memesan sesuai dengan keinginan mereka,” jelasnya.

Azizah memulai usahanya sebagai Dropshipper Dimsum dengan modal awal itu hanya Rp. 40.000.

Ia berharap, dari modal yang kecil itu bisa menjadi besar. Pasalnya, modal awalnya itu juga dari gaji pertamanya sewaktu kerja paruh waktu yang ia kumpulkan.

Dia juga mulai menjajakan dagangannya ke tetangga dan teman-temannya di kampus serta toko-toko kecil yang menjadi reseller.

Dengan semangat dan kerja keras, Azizah sedang dalam tahap memperluas jangkauan bisnisnya dan mulai melayani pesanan dalam jumlah yang lebih besar.

Meskipun menghadapi berbagai rintangan dan tantangan, Azizah tidak pernah menyerah.

Dia terus belajar dan mengembangkan keterampilannya dalam dunia bisnis dimsum agar produknya semakin berkualitas.

Selain itu, Azizah juga aktif memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan produknya dan menjangkau lebih banyak pelanggan.

Bisnis Dropshiper Azizah Berkembang

Keuletan dan ketekunan Azizah akhirnya membuahkan hasil. Bisnis Dropshipper Dimsum miliknya semakin berkembang dan mendapatkan banyak apresiasi dari pelanggan.

Azizah juga berhasil meningkatkan taraf hidup keluarganya dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat sekitar.

Berkat ketekunan dan kegigihannya, Azizah mampu meraih keuntungan yang cukup signifikan dari bisnisnya.

Ia bahkan mampu membantu orang tuanya dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari dan mampu membeli sebuah laptop baru dan layak untuk kebutuhan kuliahnya.

Modal Awal Azizah hanya Rp. 40.000

Dari modal awalnya hanya Rp. 40.000, kini ia mendapatkan omsetnya mencapai Rp. 4.000.000-6.000.000 perbulan.

Hingga kini, Azizah telah menekuni bisnisnya sebagai Dropshiper Dimsum selama 6 bulan lamanya.

Disamping itu, Azizah selalu membuat daftar tugas harian dan memprioritaskan mana yang harus diselesaikan terlebih dahulu.

Ia memanfaatkan waktu luangnya di sela-sela jam kuliah dan pekerjaan untuk belajar dan mengerjakan tugas serta kegiatan di organisasi.

Azizah juga tak segan untuk meminta bantuan teman-teman jika ada materi kuliah yang belum ia pahami.

Dukungan dari keluarga dan teman-teman menjadi salah satu faktor penting yang membantu Azizah dalam menjalani kesibukannya.

“Saya selalu terbuka kepada orang yang saya berikan kepercayaan tentang kesibukan saya sebagai mahasiswa,” katanya.

Hal ini membuat Azizah mendapatkan izin untuk mengatur jam kerjanya dengan fleksibel.

Di luar kesibukannya sebagai mahasiswi, Azizah aktif di berbagai kegiatan organisasi kemahasiswaan, seperti Himpunan Mahasiswa Teknik Elektro (HMTE) dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia(PMII).

Keaktifannya di organisasi tak hanya menambah pengalaman dan memperluas jaringan pertemanan, tetapi juga melatih kemampuannya dalam berorganisasi dan berkomunikasi.

Azizah tak menampik bahwa menjalani tiga peran sekaligus, sebagai mahasiswi, pebisnis, dan aktif di organisasi, bukanlah hal yang mudah.

“Banyak tantangan yang harus saya hadapi seperti kelelahan, stres, dan waktu yang terbatas,” imbuhnya.

Namun, Azizah berhasil melewati semua itu dengan tekad yang kuat dan komitmen yang tinggi.

Ia ingin membuktikan bahwa perempuan mampu meraih kesuksesan dengan kerja keras dan dedikasi.

Kisah inspiratif Azizah menjadi bukti nyata bahwa membagi waktu antara kuliah dan kerja bukanlah hal yang mustahil.

Dengan disiplin, manajemen waktu yang efektif, dan dukungan dari orang-orang sekitar, meraih prestasi gemilang sambil bekerja bukanlah mimpi yang tak terjangkau.

Tips Azizah Membagi Waktu Antara Kuliah dan Kerja:

1. Buatlah daftar tugas harian dan prioritaskan mana yang harus diselesaikan terlebih dahulu.

2. Manfaatkan waktu luang di sela-sela jam kuliah dan pekerjaan untuk belajar dan mengerjakan tugas.

3. Terbuka dan komunikasikan kepada atasan tentang kesibukanmu sebagai mahasiswa.

4. Carilah dukungan dari keluarga dan teman-teman.

5. Memiliki tekad dan komitmen yang kuat.

Azizah berharap, kisahnya dapat menginspirasi mahasiswa lain yang ingin bekerja sambil kuliah.

“Jangan takut untuk mencoba, asalkan kamu memiliki tekad dan komitmen yang kuat,” pesannya.

Kisah inspiratif Azizah menunjukkan bahwa dengan disiplin, manajemen waktu yang baik, dan dukungan dari orang-orang sekitar, meraih prestasi gemilang sambil bekerja bukanlah hal yang mustahil.

Untuk itu, tidak ada kata “tidak bisa” sebagai perempuan untuk melanjutkan cita-cita bangsa dalam berpendidikan ke perguruan tinggi.

“Ada pepatah mengatakan “banyak jalan menuju Roma”. Untuk mendapatkan kesuksesan pasti selalu ada kemudahan,” tandasnya.

Baca berita SiberKota lainnya, di Google News

Penulis: Syarifah Ningtias

Mahasiswa UNPAM Teknik Elektro 

You might also like
Leave A Reply

Your email address will not be published.