JAKARTA — Pengamat ekonomi Ibrahim Assuaibi memaparkan proyeksi pergerakan pasar keuangan global dan komoditas untuk perdagangan sepekan ke depan. Indeks dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi terus mengalami penguatan, yang turut memengaruhi fluktuasi harga minyak mentah, emas dunia, logam mulia, hingga nilai tukar rupiah.
Indeks dolar AS pada pekan depan diprediksi berada di kisaran 101,20 hingga 103,20. Penguatan ini didorong oleh ekspektasi pasar terhadap kebijakan Bank Sentral AS (The Fed) yang berpeluang menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Desember mendatang, seiring data ketenagakerjaan yang tetap kuat di tengah inflasi tinggi.
“Ada indikasi bahwa Bank Sentral Amerika di bulan Desember kemungkinan besar itu akan menaikkan suku bunga 25 basis poin,” ujar Ibrahim Assuaibi dalam rilis analisisnya.
Sementara itu, nilai tukar rupiah diproyeksikan bergerak di kisaran Rp18.250 per dolar AS. Ibrahim menyebutkan, mata uang Garuda berpotensi menyentuh level pelemahan di Rp18.500 jika tidak ada hambatan berarti.
“Level 18.500 itu adalah level kunci untuk menuju level 19.000 kalau seandainya kena di 18.500,” lanjutnya.
Selain indeks dolar dan rupiah, pergerakan sejumlah komoditas utama dunia turut menjadi sorotan. Harga minyak mentah (WTI Crude Oil) diprediksi bergerak fluktuatif dengan level support di 86 dolar AS dan resistance di 97 dolar AS per barel.
Sementara itu, harga emas dunia ditutup melemah di level 4.070 dolar AS per troy ounce dan diproyeksikan bergerak pada rentang 3.955 hingga 4.269 dolar AS per troy ounce pekan depan. Untuk logam mulia di pasar domestik, transaksi diprediksi berada pada kisaran Rp2.410.000 hingga Rp2.600.000 per gram.
Ibrahim menjelaskan bahwa fluktuasi harga komoditas ini tidak terlepas dari faktor geopolitik global, termasuk ketegangan yang melibatkan Iran dan AS di Timur Tengah serta dinamika konflik Rusia-Ukraina.
“Permasalahan utama itu adalah tentang masalah uranium dan geopolitik, walaupun Iran dan Amerika terjadi negosiasi di bawah kepemimpinan Qatar, tetapi kemungkinan besar perjanjian ini tidak akan terjadi,” pungkasnya.