Upaya Cegah Kekerasan Perempuan dan Anak, Pemkot Tangsel Bekali Pemahaman Kesehatan Mental Masyarakat Sejak Dini
Siberkota.com, Tangerang Selatan – Sebagai upaya memperkuat peran masyarakat dalam mencegah kekerasan terhadap perempuan dan anak, Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) melakukan peningkatan pemahaman kesehatan mental dan kemampuan memberikan dukungan psikologis sejak dini kepada masyarakat.
Kepala Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak DP3AP2KB Tangsel, Irma Safitri, mengatakan, saat ini pihaknya tengah melakukan sosialisasi kepada seluruh masyarakat Kota Tangsel dan secara khusus menyasar kelompok perempuan yang kerap berinteraksi langsung dengan masyarakat, seperti anggota majelis taklim dan ibu-ibu di lingkungan tempat tinggal.
Menurutnya, kemampuan mengelola stres memiliki keterkaitan erat dengan upaya pencegahan kekerasan.
“Kalau sudah tahu cara me-manage stres, kita tidak akan melakukan sebuah kekerasan. Kegiatan ini bertujuan untuk melakukan sosialisasi kesehatan mental dan dukungan psikologi awal kepada ibu-ibu yang sering berkaitan dengan jemaah atau tetangganya,” ujar Irma saat diminta keterangan, Jum’at (14/8/2026).
Sekretaris DP3AP2KB Tangsel, dr. Enji Seppraliana menambahkan, sosialisasi yang serukan ini lebih menekankan kepada agar masyarakat tidak hanya mampu mengelola tekanan yang dihadapi diri sendiri, tetapi juga dapat memberikan pertolongan pertama psikologis kepada orang-orang di sekitarnya yang membutuhkan bantuan.
Pada tahap awal sosialisasi ini masyarakat mendapatkan materi Dukungan Psikologi Awal (DPA) yang mencakup tiga prinsip utama, yaitu Lihat, Dengar, dan Hubungkan.
Pada tahap Lihat, masyarakat diajarkan untuk memastikan kondisi keamanan, mengidentifikasi kebutuhan mendesak, serta mengenali tanda-tanda distres pada seseorang.
Selanjutnya, pada tahap Dengar, masyarakat dilatih melakukan pendekatan secara empatik, mendengarkan secara aktif, dan memvalidasi perasaan individu yang sedang mengalami kesulitan. Sementara pada tahap Hubungkan, peserta diarahkan untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar, menghubungkan individu dengan keluarga atau teman terdekat, hingga merujuk kepada layanan profesional seperti psikolog apabila diperlukan.
“Dukungan psikologi awal mencakup pemberian empati, kepedulian, dan mendengarkan aktif, serta mengarahkan ke profesional jika masalah tidak dapat ditangani sendiri. Penting untuk tidak mengambil alih masalah sehingga pemberi bantuan tidak ikut stres,” kata Enji.
Melalui sosialisasi ini, DP3AP2KB Tangsel berharap semakin banyak perempuan yang memiliki kemampuan mengenali dan merespons situasi krisis psikologis di lingkungan terdekatnya. Dengan demikian, potensi kekerasan terhadap perempuan dan anak dapat dicegah sejak dini melalui peran aktif masyarakat sebagai garda terdepan perlindungan.