Menepis Stres Santri Melalui Terapi Psikospiritual di Pesantren Tarbiyatu Wa Da’wah Al Kautsar

Siberkota.com, Tangerang Selatan – Kehidupan santri yang padat dan disiplin tinggi kerap memicu stres. Pendampingan kesehatan mental hadir membantu mereka mengelola emosi agar belajar dan beribadah lebih tenang. Rutinitas santri yang padat, mulai dari hafalan Al-Qur’an hingga kedisiplinan asrama, menuntut ketahanan fisik dan mental yang ekstra.

Di balik semangat menimba ilmu, tantangan adaptasi, kejenuhan, hingga rasa rindu rumah tak jarang memicu stres serta kecemasan. Isu kesehatan mental di lingkungan pesantren kini menjadi perhatian penting. Memahami dan mengelola emosi bukanlah tanda lemahnya iman, melainkan ikhtiar menjaga jiwa agar santri dapat beribadah dan menuntut ilmu dengan lebih tenang, sehat, serta optimal.

Jadwal santri dimulai sejak pukul 04.00 hingga 22.00 WIB, mencakup sekolah formal dan hafalan Kitab/Al-Qur’an. Riset Kementerian Agama dan LIPI mencatat sekitar 30% hingga 40% santri rentan mengalami kecemasan akibat beban target hafalan serta adaptasi jauh dari keluarga. Ketatnya rutinitas ini menuntut daya tahan emosional yang tinggi. (Wahyudi & Khairani (2018). Isu kesehatan mental di kalangan santri bukanlah isapan jempol semata. Data Survei Kesehatan Jiwa Nasional Remaja (I-NAMHS) mencatat bahwa 1 dari 3 remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental. Pada ekosistem pesantren, berbagai studi lokal menemukan lebih dari 30 hingga 50 persen santri rentan mengalami stres dan kecemasan terutama saat beradaptasi jauh dari orang tua serta menghadapi ujian hafalan. Angka ini menegaskan pentingnya intervensi manajemen stres yang terintegrasi di lingkungan pesantren. (Alifia Tsabita Insani, dkk, 2026).

Persoalan ini juga ditemui di Pondok Pesantren Tarbiyatu Wa Da’wah Al Kautsar. Berada di lingkungan asrama dengan disiplin ketat, para santri kerap berhadapan dengan kejenuhan, tekanan hafalan, dan rasa rindu rumah. Selama ini, penanganan santri yang mengalami kecemasan masih sebatas nasihat umum atau penegakan disiplin. Padahal, tanpa keterampilan mengelola emosi, beban mental tersebut berisiko menurunkan motivasi belajar. Pembekalan manajemen stres yang tepat menjadi kebutuhan mendesak di pesantren ini.

Di lapangan, santri umumnya menghadapi stres dengan cara memendam emosi, menangis di kamar, atau sekadar bercerita secara terbatas kepada sesama teman asrama. Namun, karena tidak dibekali strategi pengelolaan emosi (coping mechanism) yang tepat, tekanan tersebut sering berujung pada penurunan kesehatan fisik, kejenuhan belajar, hingga isolasi diri. Di sisi lain, penanganan di lingkungan pesantren sejauh ini masih memiliki keterbatasan. Masalah psikologis kerap dianggap sebatas kurangnya keikhlasan atau keimanan, sehingga penanganannya dominan berupa dorongan nasihat spiritual umum dan penegakan disiplin. Tanpa adanya pendekatan teknis-psikologis yang sistematis, santri kesulitan memahami dan merilis ketegangan emosional yang mereka rasakan. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan baru yang solutif, memadukan teknik psikologi modern dan nilai keislaman agar santri mampu mengelola stres secara mandiri.

Menjawab kebutuhan tersebut, tim pengabdi hadir membawa solusi terpadu berbasis Psycho-Spiritual Therapy. Pendekatan ini tidak lagi sebatas ceramah atau nasihat satu arah, melainkan memadukan penguatan nilai keagamaan dengan teknik relaksasi psikologis modern melalui metode Experiential Learning. Melalui simulasi interaktif dan diskusi kelompok, santri diajak mempraktikkan langsung cara mengelola emosi, sehingga nasihat spiritual yang diterima dapat diresapi dan diterapkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan pengabdian masyarakat ini dihadiri oleh jajaran tim PKM Prodi Manajemen Pendidikan Islam. Hadir memberikan dukungan bidang PKM, Bapak Hendrayadi, M.Pd.I., bersama tim dosen pembimbing, Ibu Dr. Amaliyah dan Bapak Dr. Septian Arief Budiman. Program ini juga digerakkan oleh para mahasiswa PKM yang terdiri dari Muhammad Putra Bintang, Saskia Salsabila, Sofi Fakhra Nurul Husna, Muhammad Zaki Al-Ghifari, dan Nur Hikmah. Bersama-sama, mereka menghadirkan program Psycho-Spiritual Therapy sebagai solusi hangat dan nyata bagi kesehatan mental para santri.

Implementasi Experiential Learning dalam program ini dirancang mengalir melalui empat tahapan utama:

  1. Sesi Refleksi Diri (Experiencing & Reflecting) Kegiatan diawali dengan simulasi situasi penuh tekanan seperti momen setoran hafalan mendadak atau rasa rindu rumah. Melalui permainan peran (role-play), santri diajak merasakan dan mengamati langsung reaksi tubuh mereka saat stres datang, mulai dari detak jantung yang memcepat hingga pikiran yang sulit fokus.
  2. Pengenalan Sinyal Tubuh (Conceptualizing) Dalam lingkaran diskusi terbuka (sharing circle), tim pengabdi mendampingi santri untuk mendefinisikan apa yang terjadi pada diri mereka. Santri belajar memahami bahwa ketegangan fisik dan kecemasan emosional adalah sinyal alami tubuh yang membutuhkan penanganan, bukan tanda lemahnya niat belajar.
  3. Praktik Terapi Psikospiritual (Applying) Memasuki sesi inti, santri diajak mempraktikkan kombinasi olah napas (deep breathing exercise) dan relaksasi otot yang diselaraskan dengan pelafalan dzikir serta istighfar. Hembusan napas perlahan yang dipadukan dengan kepasrahan (tawakal) bekerja menurunkan ketegangan sistem saraf secara langsung.
  4. Penyusunan Komitmen Mandiri (Action Plan) Sebagai penutup, santri menyusun langkah sederhana yang siap diterapkan di asrama, seperti teknik relaksasi 3 menit sebelum tidur atau saat menghadapi ujian hafalan, sehingga keterampilan mengelola stres ini melekat menjadi kebiasaan baru.

Suasana mencair saat sesi refleksi berlangsung. Para santri yang biasanya memendam perasaan mulai berani terbuka menceritakan kecemasan, kelelahan hafalan, hingga rasa rindu rumah. Lingkungan yang hangat dan tanpa penghakiman membuat mereka merasa didengar, disadari keberadaannya, serta melepaskan beban emosional yang selama ini dipikul sendirian.

Melalui praktik langsung (Experiential Learning), santri diajak memadukan teknik pernapasan dalam dan relaksasi otot dengan pelafalan dzikir serta istighfar. Secara biologis, olah napas teratur merangsang saraf parasimpatis untuk menurunkan detak jantung dan ketegangan tubuh. Di saat bersamaan, penghayatan kalimat dzikir menghadirkan kepasrahan (tawakal), menenangkan pikiran yang cemas. Santri dapat langsung merasakan bagaimana sinergi rileksnya fisik dan kepasrahan jiwa mampu menciptakan kedamaian emosional secara instan.

Perubahan positif langsung terlihat seusai kegiatan. Para santri mengaku merasa jauh lebih tenang, lega, dan segar secara mental. Mereka yang tadinya merasa tertekan oleh kejenuhan dan beban hafalan kini memiliki keterampilan praktis untuk menenangkan pikiran saat kecemasan melanda. Senyum dan binar optimisme kembali terpancar, menandakan pulihnya energi emosional serta semangat baru mereka untuk melanjutkan kehidupan di pesantren.

Sebelum kegiatan, santri cenderung memendam kecemasan dan kepasrahan emosional akibat tingginya tekanan hafalan serta kejenuhan asrama. Seusai pelatihan, terjadi perubahan nyata: santri tampak lebih rileks, berani mengekspresikan perasaan, serta mampu menerapkan teknik relaksasi berpadu dzikir secara mandiri saat rasa cemas dan lelah datang melanda. Santri kini mampu mengenali sinyal stres, menerapkan teknik relaksasi pernapasan berpadu dzikir, serta mengelola emosi secara mandiri saat beban hafalan melanda.

Secara neurobiologis, relaksasi pernapasan mengaktivasi saraf vagus untuk menurunkan respons fight-or-flight Amigdala, mereduksi kadar kortisol, dan memperlambat detak jantung. Saat terintegrasi dengan pemaknaan spiritual (dzikir), aktivitas gelombang otak bertransisi ke frekuensi Alfa. Sinergi ini efektif menurunkan regulasi emosi negatif, meningkatkan ketahanan psikologis (resilience), serta mengembalikan homeostasis sistem saraf. (Ancok, D., & Suroso, F. N. (2011). Kesehatan mental dan nilai-nilai Islam bukanlah dua hal yang berseberangan, melainkan saling menguatkan. Dalam prinsip maqashid syariah, menjaga jiwa (hifdzun nafs) merupakan kewajiban mendasar yang sejalan dengan upaya merawat kesehatan mental. (Auda, J. (2008). Sudah saatnya pesantren dan lembaga pendidikan Islam lainnya memeluk pendekatan terpadu ini. Dengan memadukan teknik psikologi dan spiritualitas, kita tidak hanya mencetak santri yang tangguh secara intelektual dan spiritual, tetapi juga sejahtera secara emosional.

Harapan besar tertumpu agar program Psycho-Spiritual Therapy ini tidak berhenti sebagai kegiatan temporer, melainkan terintegrasi secara berkelanjutan dalam kurikulum dan pengasuhan di Pondok Pesantren Tarbiyatu Wa Da’wah Al Kautsar. Pendekatan ini diharapkan menjadi sistem pendukung (support system) yang permanen. Ke depan, model integrasi psikologi dan nilai Islam ini dapat direplikasi oleh pesantren-pesantren lain, mewujudkan ekosistem pesantren yang ramah kesehatan mental dan melahirkan generasi santri yang tangguh, sejahtera secara emosional, serta matang secara spiritual.

Oleh:

Oleh: Amaliyah dan Septian Arief Budiman/ Universitas Pamulang (Unpam)

 

 

 

 

 

 

You might also like
Leave A Reply

Your email address will not be published.