Sungai Ciujung Menghitam Akibat Limbah, Warga Minta Ketegasan Pemerintah

SiberKota.com, Banten – Warga sekitar Sungai Ciujung mengeluh akan limbah perusahaan yang membuat air sungai menghitam dan mengeluarkan bau tak sedap.

Dari limbah tersebut, terdapat 5 kecamatan yang terkena imbasnya, seperti Kecamatan Lebak Wangi, Tanara, Kragilan, Cerenang, dan Tirtayasa.

Salah seorang warga, M. Umar (28) menduga bahwa penyebab tercemarnya Sungai Ciujung yang menghitam ini berasal dari limbah PT. Indah Kiat.

“Itu mungkin penyebabnya dari PT. Indah Kiat Pulp dan Paper, ya,” kata Umar di kediamannya, Kecamatan Lebak Wangi, Selasa (2/1).

Bahkan, Umar mengatakan bahwa dugaan itu sudah menjadi rahasia umum di kalangan masyarakat.

“Mungkin semua orang juga sudah tahu mulai dari asal-usul limbah itu keluar, sampai dampaknya juga bukan rahasia umum lagi,” ungkapnya.

Umar juga menduga, ada sebagian orang terkait yang menutupi. Sebab, pencemaran Sungai Ciujung ini terlihat di depan mata.

“Ya, mungkin ada sebagian orang yang menutupi. Makanya, tujuan kita itu mencari keadilan,” tegasnya.

Bahkan, lanjut Umar, pihak pemerintah seakan-akan tidak peduli, membiarkan begitu saja tanpa ada tindakan yang konkret.

Padahal, sudah banyak yang menjerit akan pencemaran yang merugikan masyarakat sekitar sungai.

“Pertanyaan saya sebagai masyarakat kecil, kenapa diam aja, terkhusus untuk wilayah Serang kayak Bupati, atau Gubernur dan lain sebagainya,” ujarnya.

Pencemaran Sungai Buat Sengsara Masyarakat saat Musim Kemarau

Menurut Umar, kesengsaraan yang masyarakat alami akibat pencemaran ini, ketika datangnya musim kemarau.

Sebab, masyarakat tidak bisa menggunakan air dari Sungai Ciujung yang memiliki mati air yang besar tersebut.

“Kalau musim hujan sih kita gak terlalu mikirin. Nah, kalau musim kemarau itu hitam semua, sedangkan masyarakat sedang membutuhkan air. Giliranmembutuhkan airnya hitam,” paparnya.

Jika memang dipaksakan menggunakan air sungai yang berwarna hitam saat kemarau tiba, itu akan membuat gatal-gatal tubuh.

“Jangankan buat mandi, orang cuci tangan aja gatal,” tukasnya.

Umar menegaskan, penjelasan tentang pencemaran ini bukan lah fitnah, melainkan faktanya seperti itu.

“Bahkan di media sudah ramai, sudah banyak pemberitaannya. Ikan juga pada mati di situ,” jelasnya.

Dengan adanya kejadian ini, Umar mempertanyakan tugas dari pemerintah setempat yang memiliki kewenangan untuk menghentikan pencemaran ini.

Sebagai masyarakat kecil, ia merasa tidak mungkin bisa mendobrak, karena memang bukan ranahnya.

“Pemerintah sebagai pengayom masyarakat itu mana? Kalau kita sebagai masyarakat kecil, kan tidak bisa mendobrak, cuma bisa bicara doang. Yang punya kewenangan itu pada kemana? pertanyaan masyarakat itu doang,” tuturnya.

Ke depan, Umar bersama masyarakat lainnya berharap akan adanya sikap yang tegas dari pemerintah atas limbah ini.

“Ya, harapannya ada keadilan untuk masyarakat, entah itu dari perusahaan yang buang limbah, atau dari pemerintah menindak tegas pelanggar,” pungkasnya.

Baca berita SiberKota lainnya, di Google News

You might also like
Leave A Reply

Your email address will not be published.