BMKG Himbau Masyarakat Waspadai Cuaca Ekstrem di Wilayah Banten

Siberkota.com, Tangerang Selatan – Belakangan ini, banyak ditemui bencana alam tiang listrik, reklame hingga pohon tumbang akibat cuaca buruk. Oleh karena itu, Kepala BMKG Wilayah II Ciputat, Hartantomenghimbau masyarakat waspadai wilayah Banten berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat yang disertai petir dan angin kencang pada periode 15-18 Juni 2025.

“Menyikapi hal ini, masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem dalam beberapa hari ke depan,” imbaunya dalam keterangan tertulis, Minggu (15/6/2025).

Hartanto berpesan masyarakat di wilayah Kota Cilegon, Kabupaten Serang bagian Barat dan Utara, Kota Serang, Kabupaten Pandeglang bagian Barat dan Selatan, Kabupaten Lebak bagian Selatan dan Timur, Kabupaten Tangerang bagian Selatan dan Utara, Kota Tangerang, dan Kota Tangerang Selatan selalu waspada.

“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap angin kencang dan potensi bencana hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor, dan genangan air, terutama di wilayah rawan,” pesannya.

Saat ini, BBMKG Wilayah II tengah memantau beberapa fenomena atmosfer yang berkontribusi terhadap peningkatan potensi cuaca ekstrem di wilayah Banten. Antara lain gelombang atmosfer ekuator Rossby yang memicu pertumbuhan awan hujan.

“Kemudian juga labilitas atmosfer lokal yang mendukung perkembangan awan konvektif secara cepat. Dan penguatan Monsun Australia yang meningkatkan kecepatan angin di wilayah Selatan Indonesia, termasuk Banten,” terang Hartanto.

Ia menerangkan, terpantau daerah konvergensi yang memanjang di Samudra Hindia Barat Banten, serta daerah konfluensi di wilayah Sumatra Selatan dan Laut Jawa yang mengindikasikan adanya daerah low level jet.

Kondisi ini mendukung pertumbuhan awan hujan di sepanjang jalur konvergensi dan konfluensi tersebut dan juga teridentifikasi adanya intrusi udara kering (dry intrusion) dari arah Barat Daya–Barat Selatan (BBS) yang melintasi Laut Timor, NTT, NTB, hingga Samudra Hindia Selatan Jawa–Bali.

Udara kering ini, lanjut Hartanto, mendorong naiknya uap air basah didepannya yang menyebabkan udara menjadi lebih hangat dan lembap di wilayah Perairan Selatan Jawa, Laut Jawa, dan Laut Banda.

“Sehingga meningkatkan potensi pembentukan awan hujan secara intensif,” ujarnya.

Baca berita SiberKota lainnya, di Google News

You might also like
Leave A Reply

Your email address will not be published.