Ruang Usaha Di Jakarta Terus Ditinggalkan Penyewa Saat Pandemi

Siberkota.com, Jakarta – Tak dapat dipungkiri, dampak pandemi yang terus berlangsung memberi tren negatif pada sektor ekonomi. Seperti di DKI Jakarta, indikasinya terlihat pula pada peningkatan luasan ruang usaha atau perkantoran yang ditinggalkan penyewa.

Direktur Eksekutif Jakarta Property Institute (JPI) Wendy Haryanto mengungkapkan luasan ruang usaha atau perkantoran yang disewakan di Jakarta yang ditinggalkan penyewanya semakin meningkat akibat pandemi.

Sebelum pandemi, luasan ruang usaha yang kosong tercatat 1 juta meter persegi. Namun, angkanya meningkat dua kali lipat hingga 2 juta meter persegi akibat pandemi.

“Angkanya meningkat karena memang banyak perusahaan yang mengurangi jumlah karyawannya yang bekerja dari kantor atau work from office. Ada pula karena kantornya tutup,” kata Wendy dalam konferensi pers daring, Selasa (26/1/2021).

Ruang usaha yang kosong ini tentunya berdampak negatif pada pemasukan pengusaha properti yang bisa berdampak pula pada pendapatan daerah dari sektor pajak. Bila angka ruang usaha yang kosong tersebut berkurang, menurutnya solusi yang bisa dilakukan adalah pengubahan strategi promosi dari para pengelola gedung.

Namun, melihat angkanya yang semakin meningkat, maka hal yang harus dilakukan adalah mengubah fungsi gedung atau fungsi ruangnya agar menjadi multifungsi. Langkah ini bukanlah hal yang mudah. Sebab, fungsi gedung atau fungsi lahan di Jakarta terpaku pada zonasi atau peruntukan lahannya yang diatur dalam Perda No 1 tahun 2014 tentang Rencana Detail Tata Ruang dan Peraturan Zonasi (RDTRPZ).

“Melihat angkanya yang sangat besar maka yang harus diubah adalah kebijakannya. Pemprov DKI harus bisa melihat hal ini kemudian mengubah kebijakan tata ruang agar lebih fleksibel,” jelas Wendy.

Kemudian, langkah yang dapat dilakukan dari sisi pengusaha adalah melakukan pengubahan secara fisik.

“Misal gedung kantor yang sudah tidak laku dijadikan mall atau hotel atau sebaliknya. Mall dijadikan hotel. Ini butuh investasi juga. Tapi kalau mau menggelontorkan investasi, saya yakin ini lebih memiliki ketahanan dibandingkan tetap seperti sekarang,” ungkapnya.

Kebijakan tata ruang yang fleksibel ini menurutnya akan sangat membantu di masa depan. Sebab, tidak akan ada yang tahu pandemi seperti apa lagi yang akan mewabah. Dengan kebijakan tata ruang yang fleksibel, pemerintah daerah dapat membantu pengusaha setidaknya bertahan agar tak menimbulkan dampak ekonomi yang lebih besar.(Den)

You might also like
Leave A Reply

Your email address will not be published.