Siberkota.com – Pakar Anak dan Psikoterapis, Charlotte Armitage menyampaikan, adiksi atau ketergantungan anak pada gawai (gadget) cukup berpengaruh pada pembentukan mental anak. Utamanya, dampak merugikan secara jangka panjang begitu ketara pada sisi kesehatan.
“Dampak kecanduan gadget pada semua area penting fungsi psikologis dapat memengaruhi perkembangan perilaku anak dan dapat memperpendek umurnya,” ungkapnya dilansir dari laman Study Finds.
Pada kasus ini, menurut Charlotte, orangtua harus mengambil sikap dan berani untuk mengatakan tidak terhadap penggunaan gawai bagi anak. Pasalnya, penggunaan gawai dikatakan hanya menimbulkan mekanisme kecanduan dalam otak anak.
“Mekanisme kecanduan ini berasal dari hormon perasaan senang di otak. Saat menggunakan ponsel dan media sosial, menerima like di platform seperti TikTok dapat memicu hormon ini. Segala jenis kecanduan adalah perilaku yang memicu pelepasan neurotransmiter di otak. Otak mengenali tindakan sebagai hadiah, dan mendorong kita untuk melakukannya lagi, ” ujar Charlotte.
Selain mengganggu kesehatan mental, menurutnya kecanduan gawai juga akan mengganggu kesehatan fisik pada anak. Hal ini dibuktikan bahwa seseorang yang terbiasa melihat ponsel sebelum tidur, mereka masih memiliki kadar kortisol yang tinggi dalam darahnya setelah bangun di pagi hari.
“Ini berarti anda akan mengalami cemas bahkan sebelum anda bangun. Kortisol bertanggung jawab atas sesak napas, jantung berdebar-debar, dan kepanikan yang anda rasakan saat stres atau cemas. Itu bahkan dapat berdampak negatif pada sistem kardiovaskular,” paparnya.
Charlotte melanjuti, bahwa gangguan lain yang dapat terjadi adalah penghambatan dalam perkembangan emosional.
Dia menekankan bahwa penggunaan gawai untuk menenangkan anak kecil saat tantrum dapat menjadi bumerang dan akhirnya menghambat perkembangan emosional mereka.
“Para peneliti di Michigan Medicine menemukan bahwa gadget dapat membantu menenangkan balita dalam jangka pendek, tetapi juga dapat mengurangi kesempatan mereka untuk melatih keterampilan mengatasi emosi,” bebernya.
Selain itu, memberikan gawai kepada anak usia prasekolah yang sedang kesal memang dapat menenangkan mereka dengan cepat. Nanun, hal ini dapat menyebabkan perilaku menentang yang lebih parah di kemudian hari.
“Studi inj juga menunjukkan bahwa seringnya penggunaan smartphone dan tablet untuk menenangkan anak-anak yang sedang kesal antara usia tiga dan lima tahun menyebabkan peningkatan disregulasi emosi pada anak-anak, terutama pada anak laki-laki,” tuturnya.
Pandangan sama disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) Deputi Bidang Pemenuhan Hak Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Rini Handayani. Iamengatakan, pemberian gawai kepada anak usia dini, berpotesni mengganggu kemampuan bicara anak.
“Persoalan pengasuhan dengan memberikan gadget kepada anak, itu bukan kemauan anak, tapi ini adalah orangtua yang memberikan gadget kepada anaknya agar anaknya anteng, tenang,” kata Rina.
Bahkan menurutnya, ada orangtua yang bangga anaknya bisa bermain gawai. Padahal, pemberian gawai pada anak memiliki dampak negatif yang besar.
Rini mengatakan anak-anak yang kecanduan gawai disebabkan karena orangtua yang salah dalam memberikan pengasuhan.
Oleh karenanya, pihaknya mendorong agar orangtua maupun pengasuh anak untuk melakukan pengasuhan dengan benar, salah satunya menjauhkan anak dari gawai dan memperbanyak stimulasi pada anak.
Direktur Eksekutif ICT Watch, Indriyatno Banyumurti, turut menyikapi, bahwa orangtua juga harus mau belajar teknologi. Hal ini akan sangat berguna dalam pengawasan terhadap apa yang dieksplorasi oleh anak.
“Tantangan orangtua masa sekarang, kadang mereka kurang berminat belajar tentang teknologi. Akhirnya, anak-anak secara bebas mengeksplorasi segala yang ingin mereka ketahui tanpa adanya pengawasan,” kata Indriyatno.
Menurutnya, tanpa adanya minat orang tua untuk bersama-sama belajar teknologi, akan sulit menciptakan ruang aman di dunia maya bagi anak.
Maka dari itu, orangtua tidak boleh malu dikatakan gagap teknologi dan harus mau belajar untuk melindungi anak.
“Pemikiran gaptek harus kita ubah. Sebab, pendidikan karakter anak dibentuk pertama kali oleh keluarga. Meskipun kita tidak bisa mengawasi anak selama 24 jam, setidaknya dalam perkembangan awal mereka menggunakan teknologi dibersamai oleh pengawasan kita selaku orang tua,” tutupnya.