Marcilea Foundation Peduli Orang Terlantar hingga ODGJ di Tangsel

Siberkota.com, Tangsel – Di tengah sunyinya malam, ketika sebagian besar warga terlelap, masih ada aktivitas kemanusiaan yang dilakukan di bawah jembatan Pondok Aren, Tangerang Selatan (Tangsel). Dia adalah Ibu Marsilia Krenata bersama tim Marcilea Foundation kerap turun langsung menyambangi warga yang hidup terlantar, hingga Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang ditemukan tanpa tempat tinggal, identitas kependudukan, maupun akses layanan kesehatan.

“Kalau bukan kita yang jemput, siapa lagi?” ujar Marsilia.

Aktivitas tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang Marcilea Foundation yang telah menjalankan kegiatan sosial sejak 2003. Lembaga tersebut kemudian memiliki akta yayasan pada 25 Februari 2010 dan tercatat di Dinas Sosial Kota Tangerang Selatan serta Kesbangpol.

Basis kegiatan Marcilea berada di Rumah Bersama Marcilea, Perumahan Vila Pamulang, kawasan Pondok Benda, Kecamatan Pamulang, Tangerang Selatan. Rumah tersebut dimanfaatkan sebagai rumah singgah sekaligus tempat menjalankan berbagai kegiatan sosial.

Berawal dari Kepedulian

Perjalanan Marcilea bermula dari keprihatinan terhadap kondisi pemulung, gelandangan, pengemis, warga miskin, hingga masyarakat terlantar yang mengalami kesulitan mendapatkan layanan dasar.

Persoalan administrasi kependudukan dan keterbatasan biaya membuat sebagian warga kesulitan memperoleh pelayanan kesehatan maupun bantuan sosial.

Kondisi itu mendorong Marcilea Foundation membangun gerakan sosial dengan perhatian pada kesehatan, pendidikan, pemberdayaan masyarakat, serta pemulihan martabat kelompok rentan.

Semangat yang mereka usung adalah “Semangat Bersama Menebar Manfaat Kebaikan.”

ODGJ Menjadi Perhatian Utama

Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian Marcilea semakin banyak diarahkan kepada ODGJ yang hidup di jalanan maupun dalam kondisi terlantar.

Marsilia pernah menyampaikan dukungannya terhadap upaya pemerintah memberikan pengakuan dan perlindungan bagi penyandang disabilitas, termasuk disabilitas mental.

Ia juga berharap Tangerang Selatan dapat berkembang menjadi Kota Sehat Jiwa, sehingga persoalan kesehatan mental tidak hanya dipandang dari sisi medis, tetapi juga kemanusiaan dan sosial.

Bagi Marcilea, ODGJ bukan kelompok yang harus dijauhi. Mereka merupakan warga yang membutuhkan penanganan, pengobatan, pendampingan, dan kesempatan untuk kembali menjalani kehidupan secara layak.

Tim kemudian melakukan berbagai langkah, mulai dari penjangkauan warga terlantar, membawa mereka ke rumah singgah, membantu proses pengobatan hingga mengupayakan pengurusan dokumen kependudukan.

Administrasi menjadi persoalan penting karena identitas kependudukan berkaitan dengan akses terhadap layanan kesehatan, BPJS, bantuan sosial, maupun program pemberdayaan.

Namun, aktivitas tersebut tidak selalu berjalan mulus. Keterbatasan anggaran, stigma masyarakat, hingga kesalahpahaman terhadap kegiatan relawan menjadi tantangan yang harus dihadapi.

Pendidikan dan Pemberdayaan

Kepedulian Marcilea tidak hanya diarahkan kepada warga terlantar. Yayasan ini juga menjalankan sejumlah program untuk membantu anak-anak dari keluarga kurang mampu.

Salah satunya Gerrak, singkatan dari Gerakan Seragam dan Alat Tulis Sekolah. Program tersebut pernah menghimpun donasi sekitar Rp5,3 juta pada 2011 untuk membantu 65 anak di wilayah Tangerang Selatan.

Ada pula program Sumringah, yakni kegiatan yang memberikan kesempatan kepada anak yatim merasakan suasana hari raya dengan memilih sendiri kebutuhan pakaian Lebaran dan mengikuti buka puasa bersama.

Sementara program Jenaka atau Jambore Anak Yatim Ceria memberikan ruang bagi anak-anak yatim untuk menikmati kegiatan rekreasi dan kebersamaan.

Marcilea juga menjalankan pemberdayaan ekonomi dengan memberikan pelatihan serta dukungan modal skala kecil kepada ibu-ibu di sejumlah wilayah, termasuk Pondok Aren dan Bintaro.

Langkah tersebut diarahkan agar penerima manfaat tidak hanya mendapatkan bantuan sesaat, tetapi mempunyai kesempatan membangun usaha dan meningkatkan kemandirian ekonomi.

Donasi Dipandang sebagai Amanah

Di tengah keterbatasan sumber daya, Marcilea Foundation menempatkan pertanggungjawaban penggunaan donasi sebagai bagian penting dalam kegiatan sosial.

Setiap program diupayakan memiliki laporan pertanggungjawaban sebagai bentuk transparansi kepada para donatur dan masyarakat.

Bagi pengelola, donasi bukan sekadar bantuan berupa uang, melainkan kepercayaan yang harus dipertanggungjawabkan.

Perjalanan lebih dari dua dekade menunjukkan bahwa kegiatan sosial tidak selalu membutuhkan fasilitas besar. Kepedulian dan kemauan untuk turun langsung menjadi modal utama dalam membantu masyarakat yang membutuhkan.

Mendorong Tangerang Selatan Menjadi Kota Sehat Jiwa

Persoalan ODGJ masih menjadi pekerjaan besar. Penanganannya membutuhkan keterlibatan banyak pihak, mulai dari keluarga, masyarakat, pemerintah daerah, Dinas Sosial, fasilitas kesehatan hingga rumah sakit jiwa.

Selain penanganan medis, persoalan stigma juga menjadi tantangan tersendiri. Masyarakat perlu mendapatkan pemahaman bahwa gangguan jiwa merupakan persoalan kesehatan yang membutuhkan penanganan dan dukungan, bukan pengucilan.

Marsilia berharap gerakan kepedulian terhadap kesehatan jiwa dapat terus berkembang di Tangerang Selatan.

“Rumah singgah ini kecil. Tapi kalau setiap orang mau peduli sedikit, kota ini bisa jadi rumah besar,” katanya.

Lebih dari 20 tahun berjalan, Marcilea Foundation berusaha membuktikan bahwa kepedulian dapat dimulai dari langkah sederhana: mendatangi mereka yang terlupakan, memberikan tempat yang aman, membantu mendapatkan pengobatan, dan membuka kembali kesempatan untuk hidup bermartabat.

Bagi masyarakat yang ingin mendukung kegiatan sosial Marcilea Foundation, donasi dapat disalurkan melalui:

Yayasan Marcilea Peduli SosialBank Mandiri: 1640003891183.

You might also like
Leave A Reply

Your email address will not be published.