Dinsos Tangsel Kaget Masih Ada Warganya Tinggal di Bedeng Tanpa Listrik

Siberkota.com, Tangerang Selatan – Dinas Sosial (Dinsos) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) baru akan mengecek data keluarga siswi berinisial KDL (15) apakah sudah terdaftar dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).

“Nanti akan saya cek ke data DTKS. Nanti akan dapat bantuan sosial dari pemerintah, termasuk juga kan ada bantuan dari pusat, provinsi, dan juga Tangsel juga. Siapa tahu sudah masuk DTKS,” terang Kepala Dinsos Tangsel, Apendi, usai mengunjungi kediaman keluarga KDL di Kampung Ciater, Rawa Mekar Jaya, Serpong, Senin (26/09/22).

Untuk sementara ini, Dinsos meminta agar kedua orang tua, Kartajaya (57) dan Asni (45), dibantu pengurus lingkungan setempat mencarikan kontrakan yang layak agar bisa menunjang kegiatan belajar KDL di rumah.

“Sementara ini ngontrak dulu, agar anak bisa belajar, fokus belajar,” terangnya.

Keprihatinan yang dirasakan keluarga KDL menggugah hati banyak pihak. Bahkan Dinsos pun merasa kaget lantaran masih ada keluarga yang tinggal tanpa aliran listrik di tengah Kota Tangsel.

“Anak ini kan perlu belajar, perlu cahaya, kalau siang oke lah, tapi kalau malam bagaimana?. Kan tadi bapak bilang pakai lilin, Subhanallah. Ini Tangsel masa belajar pakai lilin,” ucapnya penuh iba.

Dalam kunjungan itu, Dinsos turut menyerahkan bantuan Sembako, uang tunai, serta alat pendukung lainnya kepada kedua orang tua KDL.

KDL merupakan anak bungsu dari 4 bersaudara. Dia kini masih menempuh pendidikan di bangku kelas 3, SMPN 11 Rawa Buntu. Nasibnya sedikit lebih baik ketimbang ketiga kakaknya yang tak merasakan pendidikan sekolah.

Bedeng yang ditinggali itu terletak di sisi dinding pembatas milik salah satu pengembang, persis di bawah sebuah pohon besar. Bangunannya dibuat tambal sulam dengan bekas papan, kayu, seng, dan bambu yang tak terpakai.

Lebih memilukannya lagi, bedeng itu tak memiliki akses jaringan listrik dan air sumur. KDL kerap mengeluhkan rasa sakit pada bagian mata akibat belajar hanya diterangi lilin atau sinar lampu handphone. Jika malam tiba, suasana rumah dan sekelilingnya praktis gelap gulita.

Guna memenuhi kebutuhan air untuk mandi, mencuci, dan memasak, keluarga ini harus turun ke sumber air yang berada di sudut perumahan di balik tembok pembatas. Jaraknya lumayan jauh sekira 200-300 meter dengan jalan menurun tajam. Air itu ditempatkan dalam ember atau galon, lalu dipanggul ke dalam bedeng.

You might also like
Leave A Reply

Your email address will not be published.