Siswa Baru di SMA Al-Azhar BSD Diduga Jadi Korban Kekerasan Kakak Kelas, Ini Penjelasan Sekolah

Siberkota.com, Tangerang Selatan – Salah seorang siswa baru di Sekolah Menengah Atas (SMA) Al-Azhar Bumi Serpong Damai (BSD), Kota Tangerang Selatan (Tangsel) berinisial NA diduga menjadi korban kekerasan yang dilakukan oleh kakak kelasnya.

Hal itu berdasarkan adanya laporan ke Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA)  Polres Tangsel. Meski begitu, polisi belum bisa menjelaskan terlalu jauh lantaran hingga saat ini korban masih belum bersedia dimintai keterangan lengkap.

“LP sudah dibuat tapi korban belum mau di BAP (Berita Acara Pemeriksaan),” terang Kanit PPA Polres Tangsel, Iptu Siswanto, Kamis, (28/7/2022) saat dikonfirmasi.

Saat dikonfirmasi prihal terkait ke Kepala Sekolah Al-Azhar BSD, Moch. Mukrim S.Pd membantah kejadian tindakan bullying atau kekerasan yang dilakukan kakak kelasnya kepada siswa baru yang mengikuti kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) berinisial NA.

Mukrim mengatakan, ada tiga tuduhan orang tua kepada sekolah yaitu anaknya ditendang saat sedang menunggu driver sepulang sekolah oleh kakak kelasnya, kemudian disiram kopi panas di Taman Kota 1 dihari kedua MPLS dan pemanggilan dimalam hari yang diduga ada tindakan kekerasan.

Kepala SMA Al-Azhar Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang Selatan, Moch. Mukrim S.Pd

Dijelaskan Mukrim, pada hari pertama MPLS, kelas 11 hanya sebagian siswa yang masuk mengikuti pembukaan pembelajaran baru karena lapangan sekolah tidak mampu menampung seluruh siswa. Sedangkan kelas 12 mengikuti pembukaan ajaran baru melalui daring dirumah masing-masing live Youtube.

“Nah, kalau terjadi penendangan itu pada saat ananda NA duduk menunggu driver berarti sudah lewat jam 1, diluar jam sekolah, sementara kelas XI jam sepuluh sudah pulang dan kelas XII tidak ada. Kok ada penendangan oleh kakak kelas, ini yang kami tidak bisa membuktikan karena kondisi anak-anak tidak ada,” jelasnya saat diminta keterangan diruang kerjanya.

Lebih lanjut, Mukrim pun membantah terkait tuduhan penyiraman kopi panas pada hari kedua MPLS oleh kakak kelasnya. Pihaknya mengaku sudah ada saksi kunci yang saat itu bersama dengan pelapor di Taman Kota 1.

Berdasarkan investigasi pihak sekolah, mereka sempat nongkrong sebentar meminum es keliling, kemudian temannya pulang karena dia membawa kendaraan sepeda motor dan tidak ada kejadian apa-apa saat itu.

“Kita juga sudah bertanya kepada Kepala Securiti di Taman Kota 1 dan tukang parkir disana, pengakuan mereka tidak ada kejadian penyiraman kopi panas itu. Makanya itu yang ingin kami kroscek kepada orang tuanya dengan mengundang untuk hadir ke sekolah hari Senin kemarin tapi masih berhalangan hadir,” ujarnya.

Lebih lanjut, Mukrim menerangkan, terkait tuduhan pemanggilan oleh anak-anak (Kakak kelas) terhadap pelapor pada malam hari, diakui Mukrim bahwa hal tersebut adalah kesalahan anak didiknya tanpa izin sekolah. Namun, pemanggilan itu sebenarnya hanya untuk nongkrong biasa dan tidak terjadi kekerasan apapun.

“Sebenarnya pemanggilan itu maunya siang pas pulang sekolah hari Jum’at disuruh kumpul, ya namanya kakak tingkat banyak kegiatan dan ingin regenarasi karena ingin melepaskan kepengurusan di organisasi OSIS dan mencari bibit-bibit yang bisa di orbitkan pengurus osis. Cuman ketika dipanggil ke sekolah, kan ada guru piket, sekiranya ada anak-anak yang kumpul disuruh pulang. Nah, karena ingin kumpul lagi sehabis diusir guru, disuruh lah datang jam 7 malam. Nah, NA ini bisanya jam 10 malam, yaudah akhirnya ketemu kumpul-kumpul dan ngobrol-ngobrol biasa,” terangnya.

You might also like
Leave A Reply

Your email address will not be published.