Muda Mendunia Mengakar Rumput, Diplomasi Muda Kerakyatan Indonesia dalam Majelis Organisasi Kemasyarakatan Sedunia
Siberkota.com, Federasi Rusia – Dalam rangka menghadiri kegiatan World Public Assembly atau “Majelis Publik Dunia” dengan tema bertajuk New World of Conscious Unity atau “Dunia Baru Kesadaran untuk Bersatu” pada tanggal 19 hingga 21 September 2025.
Sebagai platform komunikasi seluruh organisasi kemasyarakatan dan organisasi non-pemerintah dari seluruh dunia, yang pertama kalinya dilaksanakan ini, Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) yang diwakili oleh Badan Perwakilan KNPI untuk Federasi Rusia diundang oleh World Peoples Assembly atau “Majelis Rakyat Dunia” selaku panitia penyelenggara sebagai mitra strategis di bidang kepemudaan dari Indonesia serta diminta untuk bersinergi bersama dengan mengirimkan anak-anak muda Indonesia yang berprestasi dan berpengaruh agar dapat membagikan pikiran serta gagasan model baru dalam realitas dunia yang multipolar melalui diplomasi muda kerakyatan atau youth people’s diplomacy pada agenda pertama kegiatan ini pada tanggal 19 September 2025 yaitu International Youth Forum atau “Forum Pemuda Internasional” dengan tema Generation of Unity atau “Generasi Persatuan”. Selain itu, kegiatan ini juga diadakan bersamaan dengan dilaksanakannya Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-80 dan sebagai bagian dari Hari Perdamaian Internasional pada tanggal 21 September.
Adapun dalam sesi kepemudaan ini, diskusi dibagi ke dalam 4 tema strategis: (1) The Future of Diplomacy: The Role of Young Leaders and Social Responsibility atau Masa Depan Diplomasi: Peran Pemimpin Muda dan Tanggung Jawab Sosial, (2) Digital Media and Information Literacy: A Man in the Age of AI atau Literasi Media Digital dan Informasi: Pemuda dalam Era Kecerdasan Buatan, (3) Education and Science: New Horizons of Development atau Pendidikan dan Sains: Cakrawala Baru Pembangunan dan (4) Culture and Interethnic Dialogue: Bridges between Generations atau Budaya dan Dialog Antaretnis: Jembatan Antar Generasi. Pada hampir masing-masing seluruh tema, diisi oleh anak muda aktif dan berpengaruh Indonesia sebagai pembicara pada sesi strategis ini, yaitu Safina Lutfiah Zahro selaku selaku Head of Indonesia BRICS+ International School. Dilanjutkan oleh Rifki Kusuma Wardana selaku Ketua Unit Penjaminan Mutu Perhimpunan Pelajar Indonesia Dunia (PPI Dunia) dan Ketua Asosiasi Mahasiswa Internasional di Kazan Federal University. Serta Athari Farhani selaku pendiri sekaligus Direktur Eksekutif Juris Polis Institute dan dosen Fakultas Hukum di Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma. Selain itu, pada sesi sidang pleno Indonesia sendiri akan diwakili oleh Teguh Imanullah selaku Ketua Badan Perwakilan KNPI untuk Federasi Rusia.
Dalam paparannya, Teguh percaya bahwa di dunia multipolar dengan kemajuan teknologi saat ini dan pergerakan manusia ke berbagai negara yang sangat dinamis, peran diplomasi kerakyatan yang secara langsung dalam menciptakan kerjasama secara konkrit antar bangsa-bangsa. Konsep diplomasi antar masyarakat dan lalu baru diformalisasikan ke dalam diplomasi antar negara menjadi sangat relevan dan nyata. Dan anak muda sudah seharusnya menjadi motor penggerak people-to-people diplomacy ini secara real dan konkrit di lapangan.
“Sebagai salah satu negara terbesar di dunia dengan jumlah 38 provinsi, 514 kabupaten/kota, 1340 suku dan bangsa, 17380 pulau serta jumlah pemuda berdasarkan Undang-Undang Nomor 4 tahun 2009 tentang Kepemudaan yang menyatakan bahwa umur pemuda adalah 16-30 tahun, yang berarti ada sekitar 64 juta pemuda atau kurang lebih 23% dari jumlah seluruh penduduk Indonesia saat ini. Dengan potensi bonus demografi sebesar ini, sudah saatnya anak-anak muda Indonesia berperan lebih aktif di panggung internasional lewat diplomasi muda yang merakyat dan mengakar rumput. Indonesia, yang secara mikro, bisa disebut sebagai a living unified multipolarism atau “multipolarisme terpadu yang hidup” dapat menjadi percontohan bagi seluruh dunia bahwa keberagaman suku, agama dan ras kita merupakan kekuatan utama yang membentuk sistem negara bangsa. Konsep Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dapat menjadi instrumen diplomasi kerakyatan yang efektif untuk memperkuat pertemanan dengan seluruh organisasi kepemudaan sedunia. Dan sekarang merupakan PR kita bersama untuk mengekspor, menerjemahkan dan mentransformasikan nilai-nilai fundamental ini untuk dunia multipolar yang berkeadilan, sejahtera, aman dan berkelanjutan”, ujar Teguh Imanullah yang juga merupakan mahasiswa S3 bidang material komposit di Peter the Great St. Petersburg Polytechnic University dan Ketua Umum Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di Rusia (Permira) periode 2020/2021 ini dalam pidatonya pada sesi sidang pleno.
Pada sesi kepemudaan ini, berbagai pemimpin muda yang mewakili organisasi non-pemerintah, pengusaha dan pakar dari lebih dari berbagai negara dibagi menjadi 4 kelompok sesuai dengan bidang tema masing-masing dalam sesi diskusi panel. Pada sesi ini, para peserta bersama dengan kurator dan expert melakukan analisis SWOT terhadap diplomasi muda kerakyatan dalam kerangka: (1) peran organisasi kepemudaan dalam mendukung perdamaian, (2) keberhasilan organisasi kemahasiswaan dalam mengorganisir kampanye kemanusiaan, (3) diplomasi digital dimana media sosial menjadi saluran negosiasi serta (4) dampak volunteering terhadap opini publik.
Safina Lutfiah Zahro’ yang juga merupakan anggota BRICS+ Young Expert dalam expert analysis pada sesi strategis The Future of Diplomacy: The Role of Young Leaders and Social Responsibility atau “Masa Depan Diplomasi: Peran Pemimpin Muda dan Tanggung Jawab Sosial” menekankan pentingnya peran pemuda dalam diplomasi dan kolaborasi global. Menurutnya, forum semacam ini menjadi jembatan untuk mengurai kebuntuan dalam diplomasi formal, terutama di tengah dinamika ketegangan global.
“Kita hidup di momen bersejarah. Tatanan unipolar lama sedang membuka jalan bagi dunia multipolar yang sesungguhnya. Indonesia bukanlah pendatang baru dalam kepemimpinan global. Sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara, dan sebagai jangkar penting ASEAN, Indonesia telah lama berperan sebagai jembatan antara timur dan barat, antara belahan bumi utara dan belahan bumi selatan. Sejarah kita mengingatkan kita akan peran ini: Konferensi Bandung tahun 1955, dengan Dasa Sila Bandung-nya, merupakan landasan diplomasi non-blok yang berpusat pada rakyat. Maka di era multipolar ini, semangat tersebut menjadi sangat relevan. Dan semangat ini tidak hanya akan diemban oleh pemerintah. Semangat ini harus diemban oleh para pemuda, oleh kita semua, yang akan hidup di dunia yang sedang kita bentuk saat ini. Saya juga percaya bahwa diplomasi terpenting saat ini adalah diplomasi akar rumput, diplomasi antar-rakyat” ujar Safina yang juga orang Indonesia pertama yang menerima penghargaan dari parlemen Rusia atas kontribusinya untuk mengintegrasikan pemuda dan pemudi negara-negara BRICS dan Sekretaris Umum Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di Rusia (Permira) periode 2021/2022 ini.
Sebagai platform terbuka bagi seluruh organisasi kemasyarakatan di dunia, Safina sebagai mahasiswi S2 Ilmu Ekonomi Politik Kemitraan Strategis Rusia dan ASEAN di MGIMO University ini juga menekankan bahwa peran pemuda tidak boleh berhenti pada ruang diskusi semata. Pemuda dari negara BRICS+ yang hadir sebagai bentuk institusionalisme multilateral yang cukup berpengaruh saat ini juga pemuda dari seluruh penjuru dunia memiliki peluang untuk menjalin kolaborasi nyata, mulai dari akademik, jaringan mahasiswa internasional, forum sosial lintas budaya, hingga kemitraan ekonomi berskala kecil dan menengah lintas negara. Inisiatif ini bukan hanya mempererat persahabatan antarbangsa, tetapi juga mendorong generasi muda untuk memahami ekonomi global sekaligus menumbuhkan tanggung jawab sosial sebagai bagian dari diplomasi masa depan. Inilah wujud diplomasi ekonomi sekaligus tanggung jawab sosial generasi muda: membangun koneksi yang hidup, saling memahami, dan berorientasi pada solusi nyata bagi tantangan global.
Hal senada juga disampaikan oleh Rifki Kusuma Wardana selaku Ketua Unit Penjaminan Mutu Perhimpunan Pelajar Indonesia Dunia (PPI Dunia). Ia menggarisbawahi betapa strategisnya pemahaman antar etnis dan kebudayaan berbagai negara sebagai pelembut dan penghangat suasana disaat proses dialog-dialog yang bersifat serius. Keterikatan batin antar bangsa yang dijalankan melalui kegiatan kebudayaan adalah titik tumpuan untuk melangkah kepada kolaborasi-kolaborasi antar pemuda dari berbagai macam negara. Sudah selayaknya diperbanyak keikutsertaan anak muda Indonesia terutama Gen Z dalam kegiatan-kegiatan strategis dan berdampak jangka panjang seperti ini.
“Saya paham betul pentingnya acara-acara seperti ini diadakan dan bahkan hingga mengundang berbagai tamu penting lebih dari 100 negara untuk hadir membahas isu-isu global yang sangat aktual, salah satunya yaitu isu kepemudaan dan budaya. Saya selaku mahasiswa yang cukup aktif bergerak dalam kepemudaan dan budaya tentu ingin agar para pemuda masa kini tidak melupakan budaya-budaya yang dimiliki oleh negara mereka, apalagi terjerumus hingga terciptanya xenophobia. Harapan saya dengan diadakannya acara ini bisa menjadi wadah untuk dialog antar bangsa dan negara demi bersatunya bangsa-bangsa di seluruh dunia dengan rukun dan saling memahami antar budaya yang dimiliki, bahkan kalaupun bisa hingga membantu cita-cita negara kita saat ini untuk menciptakan Generasi Emas 2045”, tutur Rifki yang sekaligus Ketua Asosiasi Mahasiswa Internasional di Kazan Federal University dan juga Wakil Ketua Umum Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di Rusia (Permira) periode 2023/2024 pada expert analysis dalam sesi strategis Culture and Interethnic Dialogue: Bridges between Generations.
Para peserta dalam sesi kepemudaan diarahkan untuk mengembangkan inisiasi proyek-proyek dalam bentuk: (1) pembentukan jaringan diplomatik pemuda internasional, (2) kampanye promosi perdamaian di media sosial, (3) program pertukaran dan magang bagi diplomat muda serta (4) proyek yang bernilai sosial tinggi seperti menjaga lingkungan dan peningkatan kualitas pendidikan yang bertujuan untuk mengurangi ketegangan antarnegara.
Athari Farhani selaku pendiri Juris Polis Institute pada expert analysis pada sesi strategis Education and Science: New Horizons of Development atau Pendidikan dan Sains: Cakrawala Baru Pembangunan, juga menekankan bahwa pentingnya memastikan bahwa pendidikan dan ilmu pengetahuan dapat diakses secara adil tanpa diskriminasi dan melalui penguatan diplomasi pemuda lintas negara cita-cita ini dapat diakselerasi untuk dicapai. Dan peran anak muda disini selayaknya sebagai penerjemah dari dunia laboratorium dengan dunia legislasi serta jembatan sains dengan kebijakan publik.
“Sebagai mahasiswa dan praktisi, saya menyaksikan peneliti muda masih menghadapi tantangan klasik seperti pendanaan terbatas, infrastruktur yang minim, dan birokrasi yang membelenggu, sehingga riset sering terjebak pada pencapaian target administratif alih-alih menciptakan dampak sosial atau kolaborasi global. Oleh karena itu, sub tema ketiga forum ini tentang “horizon baru untuk pembangunan” menjadi relevan, di mana hukum dan tata kelola yang baik harus berperan sebagai peta navigasi yang jelas”, tutur Athari yang sekaligus juga mahasiswa S3 RUDN University ini.
Menurut dosen Fakultas Hukum di Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma ini regulasi riset dan pendidikan tinggi harus menjadi ‘hukum yang hidup’—adaptif dan responsif terhadap kebutuhan pembangunan—agar mampu mendorong inovasi, bukan membunuhnya.Athari menambahkan bahwa sebagai agen perubahan dengan energi moral dan sosial, pemuda memiliki mandat untuk menjadi arsitek perubahan, bukan penonton. Dalam menghadapi tantangan global, kerja sama lintas batas pemuda kunci untuk membangun jembatan antar bangsa dan melahirkan inovasi yang membawa kemaslahatan umat manusia, termasuk transformasi pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan.
“Kita membutuhkan regulasi yang mempermudah: pendanaan riset yang sederhana dan akuntabel, kerangka hukum yang melindungi kolaborasi internasional (termasuk Intellectual Property Rights/IPR) dan transfer teknologi), serta kebijakan yang mendorong riset interdisipliner untuk menjawab masalah nyata masyarakat. Melalui jaringan global yang kita bangun di forum ini, bersama-sama kita memastikan bahwa pendidikan dan sains menjadi fondasi kokoh bagi pembangunan global yang inklusif, berkelanjutan, dan berkeadilan. Dan, saya, mewakili Juris Polis Institute dan pemuda Indonesia dengan segala potensinya, siap untuk berperan aktif dalam menciptakan horizon baru ini”, tegas dosen Fakultas Hukum di Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma.
Dalam forum besar lembaga swadaya masyarakat sedunia ini, juga terjadi beberapa hal historik bagi pemuda dan pemudi Indonesia salah satunya adalah penandatanganan kerja sama jangka panjang antara Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) yang diwakili oleh Ketua Badan Perwakilan Komite Nasional Indonesia di Federasi Rusia (BP KNPI Rusia) Teguh Imanullah dengan World Peoples Assembly atau “Majelis Rakyat Dunia” yang diwakilkan oleh Ketua Dewan Koordinasi Majelis Pemuda Rakyat Sedunia Anastasiya Shiskina. Beberapa poin-poin strategis seperti pengembangan dan pelaksanaan program pendidikan dan peningkatan kesadaran mengenai isu-isu kerja sama di bidang kepemudaan, kemanusiaan, kebudayaan dan olahraga dalam rangka meningkatkan hubungan perdagangan, ekonomi, ilmiah, dan teknis jangka panjang dan komprehensif dari berbagai negara berdasarkan prinsip-prinsip resiprositas dengan memanfaatkan potensi integrasi yang unik dari diplomasi kerakyatan, sistem kemitraan internasional yang setara, pertukaran pengalaman, dan dialog sebagai bagian dari besarnya peran proses integrasi di benua Eurasia dan Afrika merupakan bagian dari awalan baru dari kolaborasi yang sudah berjalan kurang lebih selama 4 tahun terakhir.
Bentuk kolaborasi yang saling memberikan dukungan seperti: saling konsultasi, bertukar pendapat ahli dan proposal non-komersial, berpartisipasi dalam penelitian bersama, mewakili kepentingan dan mempromosikan proyek-proyek organisasi kedua belah pihak dalam kerangka meningkatkan potensi perkumpulan pemuda di dunia internasional, dipilih untuk merealisasikan perjanjian ini. Dengan harapan, ini tidak hanya penandatanganan kosong belaka. Namun, konkrit, berdampak dan bermanfaat bagi pemuda dan pemudi dari Indonesia dan negara-negara anggota di majelis tersebut.
Dari semua sesi, baik sesi kepemudaan, tidak hanya berakhir dengan pernyataan kosong belaka. Forum ini diakhiri dengan empat dokumen resolusi strategis: (1) Deklarasi Majelis Publik Dunia “Dunia Baru dengan Kesadaran untuk Bersatu”, (2) Deklarasi tentang Kebahagiaan, (3) Manifesto Kesadaran untuk Bersatu dan (4) Piagam untuk Dunia Baru. Dokumen-dokumen ini menekankan bahwa dengan kompleksitas permasalahan umat manusia saat ini diperlukannya sebuah protokol baru untuk mengembangkan dan mengadopsi strategi baru dalam interaksi manusia termasuk termasuk pemimpin politik, menteri, jurnalis, pemimpin opini publik, organisasi pemuda dan keagamaan, dan bisnis. Selain itu, pada tingkat konseptual, deklarasi ini menggarisbawahi bahwa sumber daya strategis dan pengatur pembangunan, seperti nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan serta makna persatuan dan keberagaman peradaban, dianggap sebagai faktor kunci dalam membentuk keamanan dan keberlanjutan sistem yang berkembang dengan sendirinya.
Oleh karena itu, resolusi ini menekankan bahwa dialog sebagai instrumen utama untuk penyelesaian konflik. Dan menekankan agar diperkuatnya peran people’s diplomacy atau diplomasi kerakyatan untuk pengembangan peran aktif dari organisasi masyarakat non-pemerintah, yang salah satunya oleh organisasi kepemudaan melalui World Youth Peoples Assembly atau “Majelis Pemuda Rakyat Dunia”, sebagai penguat jaringan solidaritas horizontal dan menjadi jembatan antara masyarakat dan otoritas masing-masing negara. Selain itu, kegiatan ini berkomitmen agar resolusi ini dapat direalisasikan melalui koordinasi oleh World Peoples Assembly atau “Majelis Rakyat Dunia” maka akan segera: (1) membentuk Komite Tetap untuk Implementasi Prinsip-Prinsip Manifesto, (2) mempresentasikan laporan tahunan pada World Public Assembly atau Majelis Publik Dunia berikutnya, (3) meluncurkan platform digital untuk mengumpulkan inisiatif dan praktik terbaik dari seluruh dunia, dan (4) mengembangkan program pendidikan tentang budaya dialog dan diplomasi kerakyatan yang mengakar rumput. Dan berdasarkan pernyataan oleh panitia penyelenggara, Majelis Publik Dunia 2026 akan dilaksanakan di kota Vienna, Austria.
*World Public Assembly atau “Majelis Publik Dunia” merupaka forum tingkat dunia yang untuk pertama kalinya ini dilaksanakan pada tahun 2025 untuk mengumpulkan seluruh elemen lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan organisasi masyarakat serta organisasi non-pemerintah dari seluruh dunia untuk bertukar pengalaman konkrit serta hasilnya akan disampaikan dalam bentuk resolusi ke dalam lembaga-lembaga baik di masing-masing negara maupun organisasi multinasional. Kegiatan ini diikuti oleh 5000 lebih peserta yang datang secara langsung dari lebih 150 negara di dunia dengan beragam tema. Tujuan dari kegiatan ini adalah mengakselerasi pembentukan kontur baru kemitraan internasional sebagai kesatuan masyarakat yang sadar berdasarkan prinsip-prinsip tanggung jawab bersama untuk masa depan, menghormati cita-cita moral dan nilai-nilai budaya setiap orang dan setiap bangsa di dunia