PSI Jakarta Soroti Dokumen Anggaran Pemprov Tak Transparan

Siberkota.com, DKI Jakarta – Fraksi PSI DPRD DKI Jakarta menyoroti Transparansi Dokumen Anggaran dalam Raperda APBD Provinsi DKI Jakarta Tahun 2024. Sekretaris Fraksi PSI DPRD Jakarta, Justin Adrian, menyampaikan, dokumen anggaran yang disampaikan Pemprov DKI sulit dikontrol lantaran berbentuk hard copy.

“Jadi cost belanja di DKI Jakarta itu ada belasan bahkan puluhan ribu. Kita fraksi PSI delapan kursi tidak mungkin bisa mempelajari seluruhnya sampai dengan lebih dari 20.000 cost anggaran. Terlebih lagi itu sering kali diberikan datanya mepet, tidak diberikan bentuk excel nya. Seringkali diberikan bentuk hard copy nya. Terlalu sulit untuk kami menelaah mencari mana anggaran-anggaran yang sekiranya janggal. Sehingga kami membutuhkan kemudahan akses melalui internet seperti yang sebelumnya”, ujar  Justin usai rapat paripurna di DPRD DKI Jakarta, Senin (9/10/2023).

Justin menyampaikan, pembatasan informasi detail anggaran di DKI itu dilakukan setelah Fraksi PSI menemukan kejanggalan kejanggalan terkait pengadaan lem aibon pada kepemimpinan Gubernur Anies Baswedan.

“Seperti pertama-tama kita masuk disitu kan ada Smart APBD ya. Dari situ Smart APBD kita bahkan bisa breakdown itu sampai komponen tingkat keempatnya. Tapi semenjak ketemu lem aibon itu sempat kita suarakan juga kepada pak Anies pada waktu itu berdasarkan Undang-undang terkait keterbukaan informasi publik. Informasi anggaran ini, tidak dapat dikategorikan sebagai informasi-informasi yang boleh ditutupi dari publik. Karena tidak berkaitan dengan keamanan nasional. Itu semestinya ini menjadi konsumsi publik. Dan tentunya ini bisa melibatkan seluruh pihak yang berkepentingan termasuk teman-teman wartawan, teman-teman mahasiswa, LSM dan lain sebagainya. Supaya bisa sama-sama mengawal anggaran di DKI Jakarta”, ujarnya.

Lebih lanjut, Justin menyampaikan, Fraksi PSI menilai tidak perlu adanya pembatasan tersebut terlebih mengenai anggaran guna kepentingan khalayak.

“Pesan nya simple. Kalau tidak ada yang disembunyikan, tidak ada yang perlu ditutupi. Biarkan semua khalayak bisa memiliki akses terhadap itu. Karena toh belanja di DKI Jakarta itu untuk kepentingan masyarakat juga. Untuk kepentingan rakyat juga. Jadi saya pikir kalau tidak ada yang disembunyikan, tidak perlu ada yang ditutupi sama sekali,” tukasnya.

Sumber: TitikKata

You might also like
Leave A Reply

Your email address will not be published.