Pelayanan Air Minum Dinilai Gagal, Kerjasama PAM Jaya dengan PT Moya Indonesia 25 Triliun Disorot

Siberkota.com, Jakarta – Direktur Eksekutif Studi Demokrasi Rakyat (SDR) Hari Purwanto menyoroti Kerjasama Perumda PAM Jaya dengan PT Moya Indonesia dalam pengelolaan air bersih yang dinilai gagal melayani kebutuhan air minum warga Jakarta.

Hari mengatakan, prinsip kerjasama antara PAM Jaya dengan PT Moya Indonesia tidak berbanding lurus dengan kinerjanya, bahkan pelanggan air bersih di DKI Jakarta tidak mendapat dampak signifikan dari nilai kontrak fantastis sebesar Rp 25 triliun yang ditandatangani sejak tahun 2022 itu.

Menurut Hari, kehadiran PAM Jaya dengan menggandeng PT Moya Indonesia semestinya sukses menyediakan air bersih di Ibukota. Namun fakta dilapangan gagal melayani kebutuhan air minum untuk warga jakarta.

“Salah satunya beberapa di kelurahan warakas, tanjung priok papanggo dan sungai bambu airnya tidak dapat diminum langsung sampai sekarang. Alasan klasik bahwa pipa disekitaran tanjung priok pipanya sudah tua dan harus di ganti dan akses air perpipaan belum merata, warga miskin membayar air jerigen dengan harga mahal. Berbeda bagi warga yang mampu harus membayar alat memakai penyaring agar dapat langsung diminum yang disiapkan oleh PAM Jaya. Kasihan rakyat dijadikan bisnis sekedar untuk mendapatkan laba besar,” ungkapnya, Selasa (6/1/2026).

Hari berpandangan, hal tidak sejalan dengan amanat Undang-undang dasar 1945 pasal 33 ayat 3, dimana Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

“Sebab, sampai saat ini jauh panggang dari api, pada prakteknya lebih mengedepankan dan menguntungkan pihak swasta dibandingkan memberikan keuntungan bagi BUMN/BUMD itu sendiri,” pungkasnya.

You might also like
Leave A Reply

Your email address will not be published.