PT Jakpro laporkan Warga KSB yang Buka Hunian Lantai 2, Pengamat: Pelanggaran HAM

SiberKota.com, Jakarta – Pelaporan atas 4 warga Kampung Susun Bayam (KSB) ke pihak kepolisian oleh PT Jakarta Propertindo (Jakpro) dinilai melanggar Hak Asasi Manusia (HAM).

Empat warga warga Kampung Bayam Jakarta yang saat ini menempati KSB itu antara lain Komar, Muhammad Furqon, Junardi Abdullah, dan Sudir.

Mereka harus berhadapan dengan hukum lantaran ada warga yang membuka hunian KSB di lantai 2 pada Kamis, (7/12) lalu.

Hal itu terucap dari Kuasa Hukum Warga KSB, Muhammad Taufiq, melalui pesan audio visual, Kamis (21/12).

Menurut Taufiq, langkah hukum yang diambil oleh Jakpro maupun Penjabat (Pj) Gubernur DKi Jakarta adalah tindakan yang konyol.

Bahkan, Taufiq menyebutkan bahwa tindakan mereka telah melanggar HAM dan melecehkan hukum.

Sebab, sejak tahun 2022 warga Kampung Bayam Jakarta telah memiliki dan menerima surat ijin penempatan KSB sesuai dengan tempat masing-masing.

“Mereka sudah menerima itu, tetapi tidak kunjung terselesaikan kapan menempatinya, dan sebagainya. Sehingga, hak-hak mereka terabaikan. Boleh di katakan, Jakpro maupun Pj Gubernur DKI Heru Budi itu, melakukan pelanggaran Hak Asasi Manusia dan sekaligus pelanggaran hukum serta pelecehan hukum terhadap warga Kampung Susun Bayam,” paparnya.

Dugaan Sarat Kepentingan Politik

Tak kunjung adanya pemberian akses warga Kampung Susun Bayam Jakarta, Taufiq menduga ada sarat kepentingan politik oleh Pj Gubernur.

“Anda harus tahu! Mereka ini sudah lama menghuni Huntara (Hunian Sementara) dan mereka seperti gelandangan. Jadi, kalau hari ini kita menerima pengungsi Rohingya dengan makan ayam dan mereka menganggap nasinya kurang, kita ada yang lebih hina dari itu. Dan itu orang Indonesia,” tukasnya.

“Orang Indonesia yang secara hukum sudah terlindungi, haknya sudah terpenuhi oleh Gubernur, saat itu Anies Baswedan. Tapi oleh Pj Gubernur karena kepentingan politik, saya lebih melihat ini sebuah kepentingan politik,” sambungnya.

Penilaian Taufiq atas sarat kepentingan politik tidak hanya sebatas warga KSB saja, melainkan Jakarta International Stadium (JIS) yang sering dipermasalahkan.

“Karena bukan hanya Kampung Bayam Rumah Susun, tetapi juga Jakarta International Stadium. Kenapa Heru Budi tidak kunjung memberikan kesempatan mereka untuk menempati itu? karena ini tidak menguntungkan bagi mereka,” ungkapnya.

Taufiq menjelaskan, KSB itu memang merupakan sebuah contoh tempat tinggal atu hunian bagi masyarakat menengah ke bawah.

Namun, pada kenyataannya, warga KSB tidak beruntung seperti warga lain yang tinggal di rumah susun.

“Jadi sekali lagi, rumah susun kampung bayam ini adalah sebuah living example bagi low class, tapi orang-orang itu di manusiawi kan.” tandasnya.

Baca berita SiberKota lainnya, di Google News

You might also like
Leave A Reply

Your email address will not be published.