Merdeka dan Kepemimpinan

Siberkota.com – Dimomentum HUT Kemerdekaan RI ke 78, Dr. Amaliyah, pemerhati pendidikan mengulas terkait merdeka dan kemerdekaan, juga terkait pemimpin dan kepemimpinan. Salah satu tujuan kemerdekaan bangsa Indonesia adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Tentu lingkungan civitas akademik menjadi barometer bagaimana merdeka dan kepemimpinan, dalam hal ini adalah role model pada mahasiswa, dosen dan perguruan tinggi tersebut.

Merdeka dalam hal ini tentang sebuah potensi yang dimiliki oleh seluruh komponen yang ada didalam perguruan tinggi. Potensi yang telah dimiliki ataupun potensi yang harus digali dengan berbagai fasilitas yang tersedia. Tentu satu mahasiswa pasti memiliki potensi, satu dosen pasti memiliki potensi, terlebih jika jumlah komponen tersebut adalah banyak. Maka “tak ada satu mahasiswa-pun yang tidak berprestasi, semua akan berprestasi sesuai potensinya”. Pun “tak ada dosen yang tidak berprestasi, semua akan berprestasi sesuai dengan potensinya”.

Potensi yang mereka miliki, harus disertai kemerdekaan dalam mengeksplor potensinya. Yaitu dengan berbagai informasi yang cukup, peluang dan kesempatan yang terbuka, serta pendampingan pada potensi dari orang yang ahli di bidangnya.

Pada dukungan kemerdekaannya adalah aturan yang manusiawi, jangan memaksakan untuk berlari, jika tak memiliki kemampuan berlari, jangan memaksakan untuk memanjat, jika takut ketinggian. Maka aturan yang diberlakukan memiliki bingkai merdeka dan kemerdekaan.

Pada merdeka dan kemerdekaan pengembangan potensi mahasiswa dan dosen, akan memberi sebuah proses yang alamiah dengan sendirinya pada kompetensi dalam ketrampilan berpikir kreatif (creative thinking), berpikir kritis dan pemecahan masalah (critical thinking and problem solving), berkomunikasi (communication) dan berkolaborasi (collaboration), termasuk terciptanya character building, spiritual value. Karena pada dasarnya setiap orang punya naluri untuk berkembang.

Untuk menghimpun beragam potensi, maka perguruan tinggi harus mampu memilih pemimpin, dikarenakan hal tersebut terkait kepemimpinan yang dilakukan. Ada beberapa jenis level pemimpin antara lain pertama, Position (Rights) yaitu pemimpin karena SK Jabatan.

Kedua, Permission (relationship) yaitu pemimpin yang dipercaya sebagai pribadi. Ketiga, Production (leadership by production)yaitu pemimpin melalui karya program. Keempat, People Development yaitu pemimpin yang mampu mencetak pemimpin berikutnya. Kelima, Personhood yaitu pemimpin yang memiliki kharisma.

Tentu di perguruan tinggi sebagai role model dari komponen bangsa, tidak memilih pemimpin sekedar level satu yang berdasarkan SK Jabatan. Apa yang terjadi jika hanya pada tataran SK Jabatan.

Yaitu program cari muka, program kesombongan kewenangan. Dan ketika program terlihat gagal, mulai sibuk mencari kambing hitam, untuk dipersalahkan tanpa melihat bagaimana kepemimpinannya. Pada kepemimpinan level ini, pemimpin tidak memiliki kemampuan untuk melihat potensi-potensi yang tersedia.

Level ke dua yaitu pemimpin yang dipercaya sebagai pribadi, bukan sekedar SK Jabatan yang didapat, tapi karakter yang telah dimiliki. Kepercayaan ini sangat penting bagi seorang pemimpin. Jika potensi-potensi yang ada tidak memiliki kepercayaan, maka posisinya adalah “one man one show” dan ibarat posisinya adalah pemimpin yang merangkap jabatan cleaning servis, dimana pemimpin ini sibuk bergerak dari teras belakang hingga teras depan. Pemimpin yang dipercaya oleh potensi-potensi yang ada, maka potensi-potensi tersebut akan bergerak dengan sendirinya sesuai kinerjanya, karena rasa percaya potensi-potensi yang dimiliki akan dikembangkan oleh pemimpin tersebut.

Level ke tiga yaitu production (leadership by production) yaitu pemimpin melalui karya program. Selain SK Jabatan, Karakter yang luhur, pemimpin ini memiliki kemampuan menghasilkan program dengan dukungan potensi-potensi yang tersedia. Mampu berkomunikasi dan mampu mengkolaborasikan, sehingga program yang direncanakan adalah program yang sudah melalui analisis kebutuhan. Apa yang dibutuhkan pada potensi mahasiswa, apa yang dibutuhkan pada potensi dosen, apa yang dibutuhkan pada potensi perguruan tinggi. Program yang telah dianalisis dari kebutuhan dipadukan dengan potensi-potensi yang tersedia, kemudian selaras dengan pengembangan pendidikan bangsa, tentu akan menghasilkan capaian yang maksimal.

Level ke empat yaitu people development. Artinya pemimpin ini adalah pemimpin yang terbuka, bahwa potensi-potensi yang tersedia di sekitarnya adalah potensi yang layak untuk maju dalam pengembangan potensinya, tanpa takut tersaingi, tanpa khawatir jabatan akan direbut. Pemimpin ini bukan hanya melihat analisis kebutuhan, bukan hanya mampu berkomunikasi dan mengkolaborasikan potensi serta mengembangkannya, namun juga pemimpin ini akan mampu memberi apresiasi. Sehingga dukungan potensi-potensi tersebut pada pemimpin level ini, adalah karena potensi-potensi mendapat peluang dan kesempatan penghargaan pada kesamaan sebagai dimensi.

Level ke lima, personhood yaitu pemimpin yang memiliki kharisma. Tentu level ini telah menaiki tangga di setiap level. Pada level ini seluruh komponen yang tersedia, akan bekerja maksimal dalam potensi yang dimilikinya untuk memberikan yang terbaik.

Sangat disayangkan, Jika banyak pemimpin yang masih di level satu, dengan mengandalkan SK Jabatan dan kewenangannya. Tak mampu melihat dan memetakan potensi-potensi yang tersedia. Ibaratnya sebuah meja, maka potensi sebuah paku-pun seharusnya dipahami. Ketidakmampuan inilah yang seakan melihat puluhan hingga ratusan potensi-potensi yang ada, seakan tak ada guna dan tak ada yang mau kerja. Terlebih jika pemimpin membuat program tanpa memiliki kemampuan analisis kebutuhan, yang menjadikan dana dan tenaga keluar sebagai pemubaziran saja, bahkan capaiannya adalah nol.

Pun sangat disayangkan jika pemimpin tidak memahami regulasi pada kewenangannya, seakan pada kebijakan dan kebijaksanaannya adalah keren dan hebat, padahal jauh dari karakter yang seharusnya ditunjukkan. Maka seharusnya pemimpin sebelum ditunjuk harus diuji psikologis, karena kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan sosial, kecerdasan spiritual pada pemimpin perlu seimbang. Jangan sampai gara-gara tidak memiliki kecerdasan emosional, mudah tersinggung, mudah tersakiti, mudah berprasangka, mudah menghakimi, mudah merasa benar, pun mudah sombong dengan kebenaran satu sudut pandang saja.

Jangan sampai gara-gara tidak memiliki kecerdasan sosial, tersenyum pada potensi-potensi yang ada juga tak mampu. Pun tak mampu berbaur dalam menciptakan chemistry dengan komponen potensi-potensi tersebut. Apalagi jika pemimpin, bermainnya kurang jauh, tentu akan ketinggalan informasi (up to date), dan pasti yang disibukkan adalah diri sendiri dan pengorbanannya. Kecerdasan sosial ini terkait analisis sosial dalam programnya.

Perguruan tinggi sebagai komponen bangsa dalam mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara, terlebih di era globalisasi tentu harus mampu mempersiapkan potensi-potensi yang ada di dalamnya, sebagai andil mengisi kemerdekaan. Yaitu mengenali potensi mahasiswa dan dosen, mengembangkan potensi tersebut, hingga melahirkan role model dari pemimpin perguruan tinggi, role model dari dosen, role model dari mahasiswa. Karena mereka adalah tokoh pada perannya masing-masing untuk merdeka dan memiliki kemerdekaan di lingkungan kampus dan masyarakat.

You might also like
1 Comment
  1. Darmawan says

    Sangat mencerahkan

Leave A Reply

Your email address will not be published.