Ciptakan Eksotisme dari Rangkaian Daun dan Batang Tanaman

Siberkota.com, Tangerang Selatan – Siang itu, kedua tangan seorang wanita setengah baya terlihat cekatan menata aneka daun dan bunga di atas selembar kain warna oranye muda kekuningan berukuran sekitar 1,5×3 meter. Kain itu sengaja dibentangkan pada sebuah selasar.

Meski daun dan bunga datang dari aneka rupa dan warna, namun keragam itu justru terlihat harmonis hingga menimbulkan kesejukan mata memandang. Kain tenun baduy yang menjadi media dasar tersebut secara konsep sudah mulai terlihat elok meski baru masuk proses awal.

Aneka daun dan bunga tadi nantinya bakal menjadi pewarna alami pada kain. Selesai lakukan penataan, daun dan bunga langsung ditutup dengan blanket atau kain selimut penutup dan digulung dengan sebuah alat dari kayu yang terbalut kertas berwarna hitam.

Dari situ, kain yang digulung tadi barulah masuk tahap pengukusan ke dalam sebuah panci besar di atas kompor selama dua jam. Pada tahap itu, proses pelepasan warna daun dan bunga ke kain terjadi.

Pengrajin sedang membuat kain Ecoprint

Hingga, tibalah saat proses terakhir penjemuran di bawah terik matahari. Secara keseluruhan, itu merupakan seni ecoprint yang rutin dilakukan sejumlah ibu-ibu Galeri 37 Tangsel di Rawa Buntu, Serpong, Kota Tangerang Selatan.

Dari tangan-tangan terampil itu sudah banyak karya dan penghargaan yang lahir. Ecoprint sendiri adalah teknik memberi pola pada kain menggunakan bahan alami seperti daun, bunga, batang, atau bagian tumbuhan lain yang menghasilkan pigmen warna.

Founder Galeri 37 Tangsel Nuning Sekarningrum mengatakan, ecoprint tidak tergantung pada pola  jadi, namun lebih kepada bagaimana cara menata bahan yang di dapat dari alam di atas kain.

Meski sekilas terlihat sederhana saat proses produksi, wanita asal Parung, Jawa Barat itu mengutarakan, butuh kejelian bagi kita untuk mengeksplore daun-daun apa saja yang dapat memberikan efek warna tertentu.

Ditambah dituntut pula kekayaan pengetahuan karakteristik tiap tumbuhan yang ada. Poin tersebut menjadi faktor terpenting ketajaman kreatifitas terjadi.

“Kayak (warna kain) ini saya buatnya pakai daun ketapang sama kulit jengkol waktu proses perendaman kain,” tutur Teh Noen, sapaan akrab Nuning Sekarningrum sembari menunjukan sebuah kain yang sudah jadi.

Sepatu, Tas dan Topi dari bahan kain Ecoprint

Sudah sejak tahun 2011, Teh Noen menggeluti dunia craft dan fashion. Kursus-kursus kerajinan telah diikutinya, bahkan sampai ke Kota Bangkok, Thailand.

Bagi wanita 51 tahun ini, ecoprint memiliki nilai seni tersendiri. Hampir dipastikan, menurutnya tidak ada karya seni yang tercipta sama persis. Kendati, proses produksi dilakukan dengan bahan yang sama.

“Contohnya pohon di Banten sama pohon di Jogja atau di daerah lain kadarnya akan berbeda, letak daun juga tidak sama, warna, suhu kompor, ph air mempengaruhi. Itu berarti beberapa keunikan dari ecoprint itu sendiri,” papar Nuning.

Untuk itu, konsep ecoprint milik Galeri 37 Tangsel memiliki karakter tersendiri. Terhadap tiap hasil karya, selalu diisi dengan aneka macam daun dan bunga pada media kain secara penuh.

Konsep itu dijelaskan Nuning memiliki filosofi Kota Tangerang Selatan sebagai daerah urban dan multi culture. Dimana masyarakat yang mendiami berasal dari bermacam-macam ras.

“Jadi kita coba tuangkan kesini (karya ecoprint). Biasanya kan ada yang (motifnya) cuma narik ke atas saja,” imbuhnya.

Walikota Tangsel, Benyamin Davnie saat menggenakan baju kemeja dari bahan kain ecoprint

Cukup banyak karya yang diciptakan Galeri 37 Tangsel sejauh ini, bentuknya pun beraneka ragam, seperti sepatu, tas, topi, dan assesoris lainnya. Bertanya masalah kualitas dan ketahanan produk, Nuning dengan yakinnya berani memberikan jaminan.

Kuncinya, ia menerapkan teknik perendaman kain dengan nama mordan spring botanical. “Kita udah lolos uji di Balai Batik, Yogyakarta. Kita dapat nilai 5 dari jumlah poin tertinggi 5,” ceritanya.

Dari pengalaman, kemeja ecoprint karya Galeri 37 Tangsel sempat dilirik Pemerintah Kota Tangerang Selatan. Saat itu, Nuning dan kelompoknya diberi kesempatan memaparkan batik ecoprint buatannya di kantor Pemerintah Kota Tangerang Selatan.

“Pak Benyamin (Wali Kota Tangsel) sempat bilang ini bisa jadi kemeja seragam pemkot. Katanya kayak sebulan sekali dipakai. Kemarin baru dari Dinas Tenaga Kerja (Tangsel) pegawainya pakai kemeja kita,” bebernya.

Nuning memastikan, produk ecoprint miliknya secara keseluruhan menggunakan bahan alami tanpa zat kimia. Di dalamnya terdiri pewarna dari bahan alam dan zat makanan sebagai pengikat warna.

Bahan yang ramah lingkungan pun dibuktikan hingga ke bagian limbah produksi. Dimana daun, bunga, dan batang yang terpakai tadi menjadi bahan penyubur tanah tanaman.

“Oh iya, kayak daun yang sudah terpakai juga kita tidak buang begitu saja, biasa dijadikan pupuk kompos. Kita juga biasa membudidaya aneka tanaman yang nantinya tanaman itu dipakai buat ecoprint. Kami terus selalu membuka pintu kepada masyarakat yang ingin lakukan pelatihan di Galeri 37 Tangsel,” tandasnya.

You might also like
Leave A Reply

Your email address will not be published.